Berita Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Informasi Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 September 2015

Direktorat Pendidikan Agama Islam Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama pada tahun 2015 ini akan menyelenggarakan kegiatan Visiting Guru PAI tingkat SD dan SMP yang kreatif, energik, inovatif, dan inspiratif. Dengan adanya kegiatan visiting guru ini, diharapkan terutama para Guru PAI dapat ikut berpartisipasi sehingga dapat menularkan keterampilan, pengalaman dan ilmunya untuk kemajuan guru PAI di wilayah sasaran, baik di lingkungan sekolah, masyarakat maupun komunitas pengembang dan peningkatan mutu pendidikan agama Islam pada sekolah.
Kegiatan Visiting Guru PAI tingkat SD dan SMP ini dirancang sebagai salah satu bentuk dalam upaya menghadapi  tantangan, namun juga sekaligus apresiasi dan peluang bagi para guru PAI untuk membantu Kementerian Agama dalam peningkatan mutu pembinaan dan peningkatan mutu PAI di sekolah. Namun harus diakui bahwa masih terdapat sejumlah problema dalam pembinaan pendidikan agama Islam di sekolah. Problema tersebut muncul, karena dipengaruhi banyak faktor, baik itu faktor input, proses, maupun output atau outcomes.  Karena  itu merupakan  langkah  cerdas,  jika  problema  tersebut, ditangani  bersama,  dibenahi  secara  berkesinambungan, serta  melibatkan  para guru PAI yang kreatif dan inspiratif.
Sebagai salah satu ikhtiar, maka progam Visiting Guru PAI tingkat SD dan SMP yang bertujuan membantu percepatan pemerataan kompetensi guru PAI ini  diharapkan dapat menjembatani kualitas guru PAI yang tersebar di berbagai penjuru wilayah di Indonesia, terutama di wilayah 3 T (terluar, tertinggal dan terdalam). Melalui kegitan ini juga, diharapkan terjadi sharing (berbagi) pengalaman antara guru PAI yang kreatif, inovatif dan inspiratif dengan guru PAI sasaran atau pihak-pihak lain yang perlu mendapat pencerahan dalam pengembangan mutu PAI.
Direktorat Pendidikan Agama Islam Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI akan menyelenggarakan kegiatan visiting  guru PAl SMP di 8 (delapan) provinsi pada 10 (sepuluh) kabupaten/kota di wilayah terluar, terpencil, terdepan (3T). Kegiatan tersebut bertujuan untuk membantu percepatan  pemerataan  peningkatan  kompetensi  GPAI dalam  rangka Implementasi Kurikulum PAl 2013.
Sehubungandengan hal tersebut jika ada GPAISMP yang berminat kami harapkan agar Saudara mengajukan nama calon peserta visiting Guru PAl SMPdengan persyaratan sebagaiberikut :
Guru PAl SMP(PNS);
Mendapat persetujuan dari Kepala Sekolah/ Kepala Kemenag Kabupaten/Kota/ Kepala Dinas/ lnstansiTerkait;
Memiliki pengalaman mengajar minimal 5 (lima) tahun (melampirkan photocopy SK CPNS dilegalisir);
Sehat jasmani dan rohani;
Tidak dalam keadaan mengandung/ hamil (dibuktikan dengan surat keterangan dokter);
Memiliki kualifikasi akademik minimal S-1 PAl, diutamakan yang memiliki ijazah S2 yang relevan;
Memiliki pengalaman diklat kependidikan (dibuktikan dengan photocopy sertifikat yang dilegalisir);
Memiliki sertifikat ToT Implementasi Kurikulum 2013 PAl dan Budi Pekerti;
Menguasai media pembelajaran berbasis ICTdi bidang PAl;
Memiliki kemampuan penulisan karya tulis ilmiah/ PTK(dibuktikan dengan karya tulis ilmiah/ laporan PTK);
Menguasai model-model pembelajaran PAl;
Berusia maksimal 50 tahun;
Diutamakan guru PAl SMPyang sudah pernah menjadi Instruktur Nasional(IN) Implementasi Kurikulum 2013 dan atau GPAI SMP yang berprestasi tingkat  nasional/ provinsi/ kabupaten/ kota (dibuktikan dengan photo copy setifikat yang dilegalisir);
Mengisi form pendaftaran (lampiran 1);
Bersediaditugaskan di daerah/wilayah sasaranyang ditetapkan;
Dokumen lain yang harus dilengkapi adalah:
Biodata (lampiran 2);
Foto copy sertifikat pelatihan yang relevan;
Surat pengantar dari Kantor KementerianAgama/DinasPendidikanKabupaten/Kota;
Surat persetujuan dari Kepala Sekolah (lampiran 3);
Surat persetujuan dari Kepala Dinas Pendidikan bagi Guru PAl yang diangkat oleh Pemda/Dinas Pendidikan (lampiran 4);
Surat pernyataan kesediaanuntuk ditempatkan pada wilayah sasaranyang ditunjuk (lampiran 5).
Berkas dokumen disusun sesuaidengan urutan dan diberi kode di pojok kanan atas (lampiran 6).
Berkasdokumen dikirim kepada panitia dan dijilid dengans ampul berwarna biru.
Usulan dan dokumen calon peserta visiting akan diseleksi oleh tim penilai Direktorat Pendidikan Agama Islam;
Catatan :
Bagi Guru PAI SMP yang berminat silahkan menghubungi Seksi Pendidikan Islam pada Kantor Kemneterian Agama Kabupaten/Kota Setempat untuk selanjutnya diusulkan sebagai calon peserta visiting GPAI ke Direktur Jenderal Pendidikan Islam Cq. Direktur PendidikanAgama Islam Up.Kepala Subdit PAl SMP
Usulan calon peserta visiting GPAI diterima oleh Dirjen Pendis selambat-Iambatnya pada tanggal18 September 2015.
Selanjutnya disampaikan bahwa penetapan peserta visiting ditentukan berdasarkan hasil penilaian/seleksi oleh tim Direktorat PendidikanAgama Islam Ditjen Pendidikan Islam.
Seluruh Peserta berhak Memperoleh biaya akomodasi dan konsumsi, uang harian dan transportasi dari daerah tempat asal ke Jakarta PP pada waktu pembekalan dan Memperoleh biaya akomodasi dan konsumsi, uang harian dan transportasi dari Jakarta ke tempat tujuan PP serta transportasi lokal selama pelaksanaan visiting guru serta Memperoleh sertifikat penghargaan
Pelaksanaan kegiatan visiting selama 10 hari pada bulan oktober 2015 yang terbagi atas 3 tahap yakni pembekalan/workshop, pelaksanaan visiting GPAI dan Evaluasi penyelenggaraan
Download Lampiran Administrasi Calon Peserta Visiting GPAI Tahun 2015, KLIK DISINI

 
Selanjutnya ...

Direktur Pendidikan Madrasah: Menyusun Silabus dan RPP adalah Ibadah

Foto
Silabus dan RPP merupakan bagian penting dalam proses belajar mengajar di madrasah. Sebagai ruh atau jantung dalam kurikulum, silabus dan RPP harus dipersiapkan secara matang dan detail. Oleh sebab itu, Sub Direktorat Kurikulum dan Evaluasi, Direktorat Pendidikan Madrasah menggelar kegiatan Finalisasi Penyusunan Silabus Mapel MI, MTs, MA dan Finalisasi Penyusunan RPPMapel MI, MTs dan MA pada 16-18 September 2015 di Semarang Jawa Tengah.
Dalam kegiatan ini, sejumlah guru dan kepala madrasah dilibatkan. Serta sejumlah dosen dan pengamat pendidikan. Direktur Pendidikan Madrasah, Prof. Dr. Phil. M. Nur Kholis Setiawan,MA. pun ikut menghadiri, membuka dan memberikan arahan pada kegiatan ini.
Dalam arahannya, Direktur Pendidikan Madrasah mengatakan bahwa kita sudah kokoh mengambil posisi tegas untuk melaksanakan kurikulum 2013. Dengan pertimbangan bahwa kita sudah berusaha keras dalan prosesnya, yaitu mulai penyusunan buku, silabus, RPP, dan training guru.
"Hal ini sudah menghabiskan energi yg cukup besar. Sekalipun kebijakan kurikulum 2013 sudah di-cancelled oleh Kemendikbud, namun Kemenag dengan tekat untuk kepentingan yang lebih startegis ke depan tetap melaksanakan," ujar M. Nur Kholis Setiawan.
"Langkah yang diambil ini berdasarkan keyakinan, bahwa kurikulum ini akan memberikan dampak yang baik kepada pesera didik. dengan asumsi kurikulum ini berisi pelajaran yang tidak akan memanjakan anak didik, sehingga learning process akan berjalan maksimal dan sebagaimana mestinya," tambahnya meyakinkan.
Kegiatan ini sangat penting karena menjadi moment yang berguna untuk saling belajar antar para ahli pendidikan sesuai dengan amanat untuk disempurnakan.
Begitu pentingnya kegiatan ini, maka tidak mungkin kegiatan finalisasi penyusunan silabus danRPP akan sia-sia di mata manusia dan Tuhan. Untuk mendukung statemen itu, Direktur Pendidikan Madrasah mengutip perkataan Muaz bin Jabbal, "Belajarlah, sesungguhnya belajarnya seseorang terhadap pengetahuan, baginya ada kebajikan, dan mencari ilmu itu ibadah, dan memperdalam ilmu tersebut merupakan tasbih, dan membahas lebih lanjut adalah jihad, serta sesungguhnya mengajarkan kepada orang yang tidak mengetahui adalah sodaqoh, dan mencurahkan seluruh perhatian kepada ilmu (suatu disiplin) adalah pendekatan diri kepada Allah."
"Yang bisa dipetik dari sahabat Muaz buat kita adalah bahwa ibadah itu bukan hanya puasa, tahajud tiap malam, wiridan sepanjang waktu. Karena ibadah itu ada dua jenis, yakni Ibadah mahdhoh dan ibadah ghoiru mahdhoh. Kalau kita yakin kalau kegiatan adalah ibadah maka tidak ada alasan untuk menyia-nyiakan waktu workshop, kalau kita yakin penyusunan RPP dan silabus MI, MTs, MA ini sebagai bentuk ibadah yang masuk dalam kategori ghoiru mahdhoh maka kegiatan ini akan menjadikan jalan menuju kema`rifatan Allah," jelasnya.
Dengan paradigma berpikir seperti ini, insya Allah, produk madrasah bisa menjadi ilmuwan yang tetap taat ibadah, bukan hanya menonjolkan simbol keIslaman, tetapi lebih mengedepankan substansi ajaran dan diimplementasikan dalam beragam metode.
Selanjutnya ...

Sabtu, 05 September 2015

TUGAS DAN TANGGUNGJAWAB GURU AGAMA DI ERA GLOBALISASI

Guru agama masa kini, bukan hanya berperan sebagai pengajar dalam arti yang sempit (transfer of knowledge), tetapi juga sebagai pendidik (transfer of values). Disamping itu, ia harus juga memainkan peranan sebagai pemimpin, pengelola, pembimbing dan pembantu guna memudahkan proses pembelajaran pendidikan agama, atau diistilahkan sebagai leader of learning, director of learning, manager of learning, dan sekaligus facilitator of learning.
Dengan peranan tersebut, guru agama diharapkan mampu membangkitkan sikap religius siswak. Siswa diharapkan mampu merespon perubahan zaman yang terjadi, tetapi tidak terbawa arus perubahan dunia yang semakin global (Arifin, 1993).
Kritik yang sering muncul, guru agama dalam membelajarkan pendidikan agama di sekolah dianggap belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Guru agama belum mampu membentuk kepribadian siswa secara utuh. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya kasus kenakalan siswa dalam berbagai bentuknya, baik di sekolah maupun luar sekolah. Meskipun kenakalan remaja tidak semata-mata disebabkan oleh pendidikan agama yang gagal, tetapi sering kali guru agama menjadi “tumpuan harapan” terbentuknya akhlakul karimah, sehingga apabila terjadi kenakalan siswa, guru agama sering menjadi sasaran. Persepsi ini tidak selamanya benar, dan juga tidak semuanya salah. Karena guru agama dianggap sebagai “penjaga moral” di lingkungan sekolah, sehingga baik buruknya akhlak siswa sering dialamatkan kepada guru agama.
Dalam perspektif pembelajaran, persoalan ini kalau ditelusuri secara seksama, sebenarnya merupakan salah satu indikasi bahwa, guru agama dalam membelajarkan pendidikan agama selama ini masih dianggap kurang berhasil dan belum memenuhi logika zamannya. Pendidikan agama yang diberikan telah jatuh ke dalam sekedar “pengajaran agama” yang indoktrinatif-normatif, yang hanya singgah di kepala sebentar menjelang dan saat-saat ujian dan sesudah itu terlupakan, tidak pernah masuk ke hati para siswa, dan tidak pernah dilaksanakan dalam kehidupan. Akibatnya, kenakalan siswa terjadi di mana-mana yang semakin lama semakin meningkat intensitasnya.
Persoalan lain dari keagagalan pendidikan agama adalah guru agama dalam membelajarkan pendidikan agama lebih banyak menekankan pada ibadah dan syariah dan sering “mengesampingkan” pendidikan akhlak. Akibatnya siswa punya semangat beribadah dan mengerti tentang hukum-hukum agama, tetapi perilakunya banyak menyimpang. Disamping itu, pendidikan agama sering dipersepsi oleh siswa sebagai ilmu yang tidak mempunyai nilai praktis-problematis dalam kehidupan, sehingga “diperlakukan” sama dengan ilmu-ilmu lainnya. Untuk itu, paradigma pendidikan agama harus diletakkan dalam kerangka fungsional-kontekstual yang mampu menyentuh aspek-aspek riil siswa dengan meninggalkan model tekstual-normatif. Dengan ini diharapkan agar siswa mampu menghadapi dunia dengan terbuka, tanpa harus tergoda oleh gemerlapnya dunia yang menyesatkan.
Untuk mencapai cita-cita ini, maka guru agama harus mampu menjadikan pendidikan agama fungsional dalam kehidupan dan bersemayam dalam nurani siswa. Persoalannya sekarang adalah, bagaimana upaya guru agama dalam membelajarkan pendidikan agama, sehingga agama akan fungsional dalam kehidupan siswa.
Dalam menghadapi tantangan global sekaligus realitas sosial, guru agama harus mampu berperan secara otimal dalam menjalankan fungsi-fungsinya. Dengan mengadaptasi pemikiran Tilaar (1998), paling tidak ada tiga fungsi guru agama , yaitu: (1) sebagai agen perubahan, (2) sebagai pengembang sikap moral, dan (3) seorang guru profesional.
Pertama, sebagai agen perubahan. Dalam masyarakat global seperti sekarang ini, tidak ada sosok lain selain guru agama yang dapat berfungsi secara efektif untuk menjadi agen perubahan, karena guru agama langsung dapat berhadapan dengan siswa (generasi muda) bahkan masyarakat pada umumnya. Seorang guru agama yang intelek dan berdedikasi tinggi merupakan unsur yang paling terdepan dan strategis dalam membawa siswa menuju pribadi muslim yang setiap gerak langkahnya selalu bersendikan nilai-nilai religius.
Kedua, sebagai pengembang sikap moral. Secara jujur perlu kita akui, bahwa sekarang ini masalah kerjasama antar siswa mulai terabaikan. Pertengkaran antar teman terjadi di mana-mana, baik di sekolah maupun luar sekolah. Bahkan kalau tidak diantisipasi secara dini, tidak mustahil muncul pembunuhan, perkosaan, pencurian, dan minum-minuman keras di lingkungan sekolah. Dalam kondisi yang demikian, peran guru agama sangat diperlukan untuk menanamkan sikap saling pengertian dan tolerasi terhadap sesama siswa. Disinilah diperlukan hubungan antar siswa yang “dewasa”, artinya perlu ditumbuhkan sikap saling menghargai perbedaan dan kekurangan di antara sesama siswa tanpa memandang perbedaan klas sosial, agama, suku, ras, dan asal usulnya.
Untuk itu, sesuatu yang harus ditanamkan guru agama kepada siswa adalah sikap moral sebagai berikut: (1) tolong-menolong dalam berbuat kebajikan, (2) khusnudhon (baik sangka) kepada semua orang, (3) menghargai diri dan orang lain, (4) menerima tanggungjawab bagi perbuatan yang dilakukan sendiri, (5) positif terhadap guru, orangtua, dan teman sekelas, (6) menjaga milik sendiri dan menjaga milik teman lain, (7) ketepatan waktu belajar dan mengerjakan tugas pelajaran, dan (8) jujur, adil, dan bijaksana kepada diri sendiri dan orang lain (Al-Maududi, 1983).
Ketiga, seorang guru profesional. Guru agama adalah salah satu guru pada suatu institusi pendidikan. Dia dianggap profesional, bilamana memiliki daya abstraksi dan komitmen tingkat tinggi (Glickman, dalam Bafadal, 1999). Dengan kata lain, guru agama dikatakan profesional kalau dia memiliki kemampuan dalam mengerjakan tugasnya dan memiliki komitmen yang tinggi untuk mengerjakan tugas berdasarkan kemampuannya. Seorang guru agama yang profesional akan senantiasa melakukan sesuatu yang benar dan baik (do the right thing and do it right). Konsekuensinya adalah dia harus selalu mengembangkan tingkahlaku dan tindakan strategis yang cermat dalam upaya membangunbiah islamiyah dan uswah hasanah di lingkungan sekolah. Atau dengan kata lain, dia dapat bekerja keras dan cerdas. Bekerja keras menunjuk pada kemampuan untuk malaksanakan tugas secara sungguh-sungguh, cepat dan berbobot, sedang bekerja cerdas adalah melaksanakan sesuatu berdasarkan pertimbangan peluang dan tantangan yang terjadi, sekaligus mampu membaca “tanda-tanda zaman”, artinya apa yang dikerjakan mempunyai nilai strategis untuk masa kini dan yang akan datang dalam upaya pembentukan jiwa religius siswa.
ndidikan agama, sehingga agama akan fungsional dalam kehidupan siswa.
Untuk mendukung fungsi-fungsi tersebut, maka guru agama harus mempunyai seperangkat kemampuan yang tercermin dalam pengetahuan, sikap, ketrampilan, dan nilai sebagai berikut: (1) bahwa seorang guru agama mempunyai sifat-sifat fisik yang memungkinkan dia dapat membimbing siswanya yang sedang dalam tahap perkembangan fisik dan moralnya, mempunyai ciri-ciri kepribadian yang kuat dan seimbang, dan mempunyai visi tentang etika tingkah laku manusia sebagai individu dan anggota masyarakat; (2) bahwa guru agama dituntut untuk mampu membawa siswa memasuki dunia ilmu dan teknologi yang terus berkembang, sebab apabila guru tidak menguasai ilmu dan teknologi yang kuat, mustahil hal itu dapat dilakukan; (3) bahwa penguasaan metodologis bagi guru agama sangat diperlukan untuk membangkitkan semangat dan menimbulkan prakarsa belajar agama siswa; dan (4) bahwa seorang guru agama harus berusaha untuk meningkatkan kualitas diri secara berkesinambungan dengan mengikuti perkembangan ilmu, teknologi, dan seni, karena ilmu pendidikan dan kependidikan serta perangkat pendukungnya terus berkembang pesat seiring dengan berkembangnya masyarakat menuju globalisasi dan informasi (Dimyati, 1999).
Apabila guru agama dapat memenuhi semua harapan tersebut,  maka tidak mustahil pembelajaran pendidikan agama akan memberikan hasil yang optimal, yang pada akhirnya mampu membentuk kepribadian muslim siswa. Dengan demikian, budaya-budaya negatif yang muncul di sekolah dapat ditekan seminimal mungkin. Semoga kita selalu diberi kekuatan dan kesehatan oleh Allah swt. dalam menjalankan tugas mulia sebagai guru agama. Amiin 3X yaa rabbal ‘alamin.
Selanjutnya ...

Guru Al Quran Hadist Harus Update dan Peka Sosial


Foto
Dalam ceramahnya di hadapan para guru Al Quran Hadits, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kamaruddin Amin mengimbau kepada para guru agar senantiasa memberikan perspektif baru terhadap anak didiknya. Hal demikian diperlukan mengingat perkembangan realitas sosial yang selalu berkembang."Nah, Al Quran Hadits harus bisa merespon perkembangan realitas," katanya di Bogor, Rabu (26/08/15).
Guru Al Quran Hadits, lanjut Dirjen, tidak boleh berhenti membaca dan belajar, karena guru senantiasa harus update dan harus menjadi gudang informasi (ware inform) serta peka terhadap perkembangan realitas. "Selain itu gurunya juga harus bisa menjadikan murid itu nyaman," katanya dalam Acara Penguatan Pembelajaran Al Quran Hadist pada Madrasah yang diselenggarakan Subdit Kurikulum dan Evaluasi.
Kamaruddin mencontohkan, bahwa dirinya pernah melihat di Inggris guru setingkat Taman Kanak-kanak (TK) mampu membuat seluruh siswa didiknya aktif dan berpartisipatif dalam pembelajaran yang sedang berlangsung, "saat guru-guru melempar pertanyaan kapada anak muridnya, seluruh murid TK mengacungkan tangan berebut ingin menjawab semua, tanpa terkecuali," tukasnya. Artinya, lanjut Dirjen lagi, guru tersebut mampu menciptakan suasanya dan mampu menumbukan daya rangsang anak untuk ingin tahu.
"Ini salah satu tugas guru. Guru tidak hanya mengajarkan pengetahuan kognitif, tapi juga harus menggali potensi-potensi anak serta rasa kritis anak. Jika ini terus maka
anak akan terus terangsang untuk belajar," terangnya. Guru Besar bidang Ilmu Hadits ini juga berharap, para guru Al Quran Hadist ini berharap agar dalam sistem
pengajarannya mengangkat hal-hal aktual dengan tema hadis dipandang dari perspektif agama.
Sebab, sambungnya lagi, guru tersebut dituntut untuk terus membaca dan membaca realitas serta mengajarkan anak-anak yang merangsang mereka terlibat dan partisipatif
dalam pembelajaran. "Kita harus mengaktualkan dan memberi perspektif baru, ada isu apapun juga kita harus bisa memberi perspektif, hal ini tidak bisa dilakukan jika kita tidak mempunyai wawasan yang luas. Dan itu kuncinya di membaca dan membaca," pungkasnya.
Selanjutnya ...

Kemenag Mimpikan Pendidikan Tinggi Khusus Al-Quran yang Terintegrasi

Kamaruddin Amin: Kemenag Mimpikan Pendidikan Tinggi Khusus Al-Quran yang Terintegrasi
Foto
Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin mengatakan, pihaknya memimpikan adanya sebuah lembaga pendidikan tinggi khusus tentang studi Al-Qur`an yang terintegrasi, ditempatkan dalam satu lokasi, lengkap dengan sarana dan prasarananya.
Demikian disampaikannya mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat memberikan sambutan pada wisuda sarjana dan pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) di Pusdiklat Kemendikbud, Jalan Cinangka Bojongsari Depok, Sabtu (29/08/15).
Lembaga pendidikan tinggi khusus tentang studi Al-Qur`an yang direncanakan itu bersifat publik yang dikelola dan dibiayai pemerintah, tidak dikelola perorangan atau yayasan keluarga.
"Lembaga ini ke depan diproyeksikan sebagai center of qur`anic studies yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Karena itu, saya sangat berharap agar IIQ Jakarta ikut ambil bagian dalam rencana dan mimpi besar ini," kata Kamaruddin Amin.
Dalam kesempatan itu ia menyampaikan, Kementerian Agama memiliki serangkaian program penguatan Perguruan Tinggi Agama Islam. Mulai dari program peningkatan kualitas mutu dosen dan tenaga kependidikan melalui program 5000 doktor, kegiatan kemahasiswaan, pemberian beasiswa tahfizh Al-Qur`an, perbaikan infrastruktur, hingga pengadaan bantuan sarana dan prasarana.
"Pada konteks ini, saya berharap agar IIQ ikut mendukung kegiatan tersebut dengan cara berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan tersebut," katanya.
Dikatakannya, Kementerian Agama RI akan selalu berkomitmen untuk mendukung program-program yang dicanangkan Institut Ilmu Al-Qur`an. Negara sangat berhutang kepada IIQ dalam konteks kaderisasi dan pemeliharaan Al-Qur`an, sekaligus pendidikan bagi kaum perempuan ini.
"Mengelola dan mempertahankan eksistensi selama 38 tahun dalam pemberdayaan perempuan dan kajian Al-Qur`an tentu tidaklah mudah. Terlebih di tengah arus globalisasi dan kontestasi budaya kota metropolitan yang pragmatis dan berbasis logika untung-rugi," katanya.
Pihaknya mengupayakan tahun depan akan ada alokasi anggaran khusus dari Kementerian Agama untuk memperkuat kajian ke-Qur`an-an di IIQ, baik dalam konteks kelembagaan, infrasturktur maupun penigkatan SDM.
Sementara itu Rektor IIQ Hj. Huzaemah T. Yanggo melaporkan, wisuda sarjana dan pascasarjana yang bertepatan dengan Dies Natalis IIQ ke-38 Tahun 2015 ini diikuti sebanyak 199 mahasiswa dengan rincian: Fakultas Syariah 29 mahasiswa, Fakultas Usuluddin 42 mahasiswa, Fakultas Tarbiyah 71 mahasiswa dan Program Pascasarjana sebanyak 53 mahasiswa.
Selanjutnya ...

Islam yang Harmonis dalam Perbedaan

Menteri Agama : Islam yang Harmonis dalam Perbedaan
Foto
Pluralisme sebagai takdir dan warisan bangsa Indonesia sudah seharusnya menjadi sumber kekuatan untuk menjadi bangsa yang kuat dan berdaulat. Paham-paham radikalisme dan ekstrimisme yang terjadi akhir-akhir ini dapat ditangkal dengan pemahaman akan Islam yang harmonis dalam perbedaan. Berbagai studi dan kajian-kajian ilmiah ke-Islaman pun senantiasa digalakkan guna memberi ruang dan tuntunan bagi masyarakat Indonesia untuk mampu menjaga karakter kebangsaan, yakni Agama kita, agama cinta damai. Budaya kita, budaya damai.
Pluralisme adalah takdir bangsa Indonesia, telah menjadi fakta historis, sosiologis, dan politis yang membentuk bangsa Indonesia menjadi bangsa yang cinta damai, suka bergotong-royong, memiliki toleransi tinggi, dan bersatu padu dalam menghadapi kolonialisme dan imperialisme serta ancaman perpecahan.
Nilai-nilai pluralisme telah menjadi perekat kehidupan berbangsa dan bernegara yang terefleksi dengan sangat jelas pada berbagai praktik budaya dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pluralisme telah menjadi sumber inspirasi bagi para pendiri dan pejuang bangsa di seluruh penjuru Nusantara dalam mempersatukan seluruh rakyat, mengobarkan semangat perjuangan, dan mewujudkan kemerdekaan.
Pluralisme telah menjadi sumber energi yang tidak pernah habis dalam mendorong para pemimpin bangsa dan seluruh lapisan masyarakat untuk terus berjuang menjadi bangsa yang merdeka, bersatu dan berdaulat. Komitmen pada nilai-nilai pluralis telah banyak membantu mereka dalam mengatasi berbagai ancaman dan tantangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Untuk menjaga keutuhan bangsa dan mewujudkan Indonesia yang lebih baik, kuat dan berdaulat, maka semua komponen bangsa, termasuk para pendidik dan ilmuan, perlu mengambil peran dan inisiatif untuk terus menanamkan, menyebarkan, dan menegakkan nilai-nilai pluralisme di seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pada saat yang sama, dewasa ini, setidaknya lima belas tahun terakhir di Indonesia muncul gejala "Conservative Turn". Yakni upaya sistematis dan terencana sekelompok orang yang berusaha untuk membalikkan wajah Islam Indonesia yang ramah, toleran, santun dan damai menjadi intoleran, sangar dan menakutkan. Bahaya merasuknya ideologi transnasional tersebut yang menafikan moderasi dan hendak menghilangkan Islam Indonesia yang sejuk harus menjadi perhatian semua komponen bangsa.
K.H. Abdurrahman Wahid berulang-ulang berpesan: "kita adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan ada di Indonesia. Itulah sebabnya, beliau mengusung gagasan pribumisasi Islam. Mengindonesiakan Islam, bukan mengislamkan Indonesia".
Pribumisasi Islam adalah gagasan otentik dan geniune untuk membangun "Rumah Besar Indonesia". Keragaman Indonesia adalah sebuah kekuatan. Keragaman adalah anugerah Tuhan yang sangat mahal.
"Harmony in diversity, tema AICIS ke-15 kali ini hendak mengusung gagasan besar bahwa Indonesia dengan keragamannya sudah final. Oleh karena itu, pilihan kita satu, Unity in diversity, bersatu dalam keragaman," tegas Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin di Manado (03/09/15).
Para ilmuwan sosial umumnya menengarai bahwa konflik antarumat beragama umumnya berkisar pada tiga wilayah yang berdiri sendiri atau saling terkait: pertama, pada wilayah ajaran,  kedua, wilayah sosial-kemasyarakatan, dan ketiga. pada wilayah kemanusiaan.
Pada yang pertama, ajaran sebuah agama akan menjadi sumber konflik sosial ketika doktrin, dogma dan sejarah keagamaan tertentu ditafsirkan secara ekstrem untuk membangun kejayaan komunitas yang bersangkutan tanpa mempedulikan pentingnya menjaga keharmonisan hidup bersama. Maraknya penyebaran paham radikal yang mengemuka di tanah air akhir-akhir ini menyadarkan kita bahwa salah satu agenda besar yang menuntut perhatian kita semua adalah bagaimana menangkal radikalisme, ekstremisme dan tindakan intoleransi yang bisa mengancam keutuhan Indonesia yang majemuk tadi.
Potret problematika Harmony in Diversity Indonesia yang disebutkan di atas merupakan agenda besar bagi kita semua untuk tetap menjaga Indonesia. Ini adalah amanat para pendiri bangsa, yang terdiri dari berbagai macam latar belakang sosial, etnis-kultural dan keagamaan. Ini juga berarti, bahwa berbagai persoalan sosial-keagamaan di tanah air merupakan panggilan bagi para akademisi, peneliti dan sarjana Muslim untuk menggali karakter khas yang dikandung dalam Pancasila dan digariskan oleh Konstitusi.
Panggilan untuk mengekplorasi secara akademik itu bisa kita sederhanakan sebagai berikut. Pertama, Indonesia adalah bangsa yang religius. Apapun agamanya, masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang religius. Kedua, karakter bangsa ini adalah menjadi bagian dari kemanusiaan universal, yang menghormati hak-hak kemanusiaan yang beradab. Ketiga, walaupun Indonesia mempunyai keragaman, namun dalam setiap keragaman tersebut terdapat ikatan (binding) dan jalinan (linked) yang saling mempertemukan satu dengan yang lainnya. Semua pemuka agama di Indonesia mempunyai prinsip bahwa kita boleh berbeda. Ada elemen-elemen lokal, tetapi selalu ada benang merah yang menyatukan kita. Seperti itulah landasan filosofis dan kultural dari Bhinneka Tunggal Ika.
Keempat, di seluruh Nusantara, bangsa ini memiliki tradisi musyawarah dalam menyelesaikan segala urusan. Sila keempat dengan baik menggambarkan ciri khas demokrasi Indonesia terletak pada prinsip ini. Empat unsur tersebut pada akhirnya kembali dipersatukan dengan cita-cita dan impian untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dan akhirnya, di manapun kita berada, baik di Papua, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan Jawa, atau lainnya, kita dipersatukan dengan impian untuk membangun sebuah masyarakat bersama yang adil, makmur, tentram dan sejahtera.
Situasi yang kontradiktif antara konsepsi besar ke-Indonesiaan dengan realitas sehari-hari kita saat inilah yang menjadi tantangan tersendiri untuk penelitian, khususnya penelitian sosial dan keagamaan. Kita merasa kondisi keharmonisan bangsa kita hari ini perlahan-lahan menyimpang jauh dari yang diamanatkan oleh para founding fathers kita.
"Oleh sebab itu, diperlukan langkah-langkah kebijakan strategis dalam rangka menjaga karakter kebangsaan kita, yang tampil dalam wajah keharmonisan dalam perbedaan. Di sinilah tugas para peneliti dan akademisi itu. Yakni, menggali berbagai pertanyaan dalam dunia sosial di Indonesia untuk bisa diimplementasikan dalam kebijakan publik. Pertama-tama, para akademisi sudah semestinya tertantang untuk mengadakan penelitian yang diharapkan mampu perkuat nilai-nilai kebangsaan dan keindonesiaan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, menghidupkan kembali pendidikan umat yang berbasis pada upaya menyemaikan nilai-nilai pluralitas dan kemajemukan masyarakat melalui pendidikan akhlak mulia (budi pekerti) dalam kurikulum pendidikan agama," terangnya.
Makalah-makalah yang terpilih untuk dipresentasikan pada AICIS ke-15 ini memaparkan berbagai fakta, pengalaman, dan pemikiran terkait dengan pluralisme dalam berbagai suku dan daerah di Indonesia yang dapat menjadi rujukan bagi bangsa-bangsa di dunia dalam menanamkan dan menegakkan nilai-nilai pluralisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Sekali lagi, saya tegaskan bahwa keragaman budaya dan agama adalah takdir sosiologis bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kita harus menjadikannya sebagai kekayaan budaya dan intelektual kita. Kebhinnekaan Indonesia adalah laboratorium hidup untuk kajian-kajian yang menyangkut toleransi beragama dan berbudaya. Apa yang kita miliki bisa menjadi contoh bagi peradaban dunia yang rukun dan damai," tegasnya.
Studi Islam, Studi Agama-agama, dan resolusi konflik harus terus dikembangkan dan dibina agar dapat mengelola keragaman secara sehat. Kajian-kajian harus terus mempertegas bahwa semua agama mengajarkan cinta, damai, dan kebaikan. Intrepretasi kepada agama dan kitab suci itulah yang biasa bias.
Perlu direnungkan juga, bahwa para peneliti semestinya juga terpanggil untuk menyumbangkan kebijakan pemerintah dalam mendorong ulama dan umat Islam untuk menjadi pelopor keteladanan dalam mengambil peran pembangunan, mengisi ruang-ruang publik kebangsaan dengan iman dan akhlak islami. Yang terakhir, para sarjana Muslim Indonesia juga sudah semestinya terpanggil untuk melahirkan sebuah kebijakan agar aktualisasi ke-Islaman tadi menjadi tampak nyata dalam praktik berbangsa dan bernegara, bukan hanya pada aspek simbolistik tetapi dalam perilaku: seperti kejujuran, berintegritas, profesionalisme, etos kerja, etis, dan lain sebagainya.
Dengan cara itulah semua para pemimpin umat yang bergerak di bidang akademik berikhtiar untuk merawat Indonesia sebagai legacy, warisan. Agama kita, agama cinta damai. Budaya kita, budaya damai.
Selanjutnya ...

Minggu, 22 Februari 2015

Kemenag Lanjutkan Kurikulum 2013 PAI Pada Sekolah

Kemenag Lanjutkan Kurikulum 2013 PAI Pada Sekolah



Jakarta (Pinmas) —- Kementerian Agama, melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, mengambil langkah strategis terkait Implementasi Kurikulum 2013 (K-13) Pendidikan Agama Islam (PAI) pada Sekolah. Langkah tersebut berupa penerbitan Surat Edaran Direktur Jenderal Nomor: SE/DJ.I/PP.00/143/2015 tentang Implementasi Kurikulum 2013 PAI pada Sekolah yang intinya melanjutkan pemberlakukan K-13 PAI pada Sekolah.
Demikian disampaikan oleh Direktur Pendidikan Agama Islam, Amin Haedari, saat dikonfirmasi tentang pelaksanaan kurikulum PAI pasca diberlakukannya Permendikbud Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013, Jakarta, Minggu (11/01). 
”Dalam Permendikbud Nomor 160 Tahun 2014 Kurikulum 2013 tidak dinyatakan diberhentikan secara substansial, tetapi ditangguhkan pemberlakuannya karena dianggap belum siap dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 tersebut,” jalas Amin.
Di samping itu, tegas Amin, setidaknya terdapat 3 pertimbangan penting K-13 PAI dilanjutkan. Pertama, Berdasarkan Pasal 3 ayat 2 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan disebutkan bahwa Pengelolaan Pendidikan Agama dilaksanakan oleh Menteri Agama.
Kedua, Kementerian Agama, baik melalui Pusat maupun Daerah (Kanwil Kemenag/Kantor Kemenag) telah melakukan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kurikulum 2013 PAIbagi sebagian besar Guru PAI. Bahkan, untuk Guru PAI SMA dan SMK sudah tuntas semua, tinggal tahap penguatan saja.
Ketiga, PAI tidak termasuk kelompok mata pelajaran (mapel) ujian nasional, tetapi kelompok ujian sekolah, sehingga penyelenggaraan dan penilaian mapel PAItergantung pada kebijakan satuan pendidikan masing-masing.
Atas dasar beberapa pertimbangan tersebut, Surat Edaran Dirjen Pendidikan Islam tentang implementasi K-13 PAI diterbitkan. Doktor bidang pendidikan lulusan Unversitas Negeri Jakarta ini menambahkan bahwa implementasi K-13 PAI akan terus dilanjutkan pada Sekolah-sekolah yang Guru PAI-nya sudah mengikuti Bimtek Kurikulum 2013 PAI. Sementara terkait sistem penilaian dan penyusunan rapor peserta didik akan disederhanakan dan disesuaikan dengan kebijakan masing-masing satuan pendidikan.
Pada tahun 2015 ini, Kementerian Agama, baik Pusat maupun Daerah, akan melanjutkan Bimtek Kurikulum 2013 PAI bagi Guru PAI yang belum mengikutinya. Sedangkan bagi yang sudah mengikuti Bimtek Kurikulum 2013 PAI akan diberikan pendampingan kurikulum bagi Guru PAI dalam implementasi kurikulum, tutur Amin.
Kepada Para Kabid dan Kasi PAI/PAKIS/Pendis di Kemenag Provinsi dan Kabupaten/Kota, Amin meminta agar berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota, terkait dua hal, yaitu: surat edaran dan implementasi K-13 PAI pada Sekolah. Secara teknis, Para Kabid dan Kasi PAI/PAKIS/Pendis, sesuai tingkatannya, agar berkoordinasi dengan dinas pendidikan setempat terkait implementasi K-13 PAI pada sekolah-sekolah yang bukan sasaran dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Info selengkapnya tentang Surat Edaran Direktur Jenderal Nomor: SE/DJ.I/PP.00/143/2015 tentang Implementasi Kurikulum 2013 PAI pada Sekolah, sila lihat http://www.pendis.kemenag.go.id/pai/file/dokumen/suratedaran.jpeg.jpeg


Selanjutnya ...

Minggu, 26 Mei 2013

Buku Panduan Kurikulum 2013

Silakan download Buku Panduan kurikulum 2013 final.disini
Selanjutnya ...

Masa depan bangsa bertumpu pada mutu pendidikan

Maju mundurnya sebuah bangsa sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya kualitas pendidikan. Yusuf Kalla berkata
Selanjutnya ...

Kurikulum pendidikan 2013 tidak bisa diterapkan

Isu-isu tentang kurikulum 2013 terus berkembang hingga...lihat disini
Selanjutnya ...

Selasa, 14 Mei 2013

Kabalitbang Kemdikbud: Saya Memilih Mundur


Sebagai bentuk tanggung jawab atas jabatan yang diempunya dengan adanya kendala yang terjadi di UN 2013... Lihat info lengkapnya disini 
Selanjutnya ...

Wamenag: Indonesia Tanpa UN Terancam Disintegrasi

UN tahun ini membuat bangsa Indonesia  terbagi dua pendapat, ada yang mengatakan pertahankan dan ada pula yang mengatakan di hapus saja, lalu bagaimanakan pendapat dari Kemenag RI. Lihat disini beritanya
Selanjutnya ...

Rabu, 01 Mei 2013

Panduan Pengembangan Diri

Pengembangan diri disekolah meruapakan wahana bagi siswa untuk menyalurkan bakat dan kreatifitasnyasilakan lihat  disini

Selanjutnya ...

Senin, 22 April 2013

Mendikbud: Tingkatkan Kualitas Guru

Tingkatkan Kualitas Guru dan Pendidikan !

Peran Guru Guru adalah sebuah profesi yang sangat mulia, kehadiran guru bagi peserta didik ibarat sebuah lilin yang menjadi penerang tanpa batas tanpa membedakan siapa yang diterangi nya demikian pula terhadap peserta didik. Tetapi, dalam mengemban amanah sebagai seorang guru, perlu kiranya tampil sebagai sosok profesional. Sosok yang memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan, sosok yang dapat memberi contoh teladan dan sosok yang selalu berusaha untuk maju, terdepan dan mengembangkan diri untuk mendapatkan inovasi yang bermanfaat sebagai bahan pengajaran kepada anak didik. Peran guru sebagai tenaga pendidik tidak hanya berhenti sebagai pemegang tonggak peradaban saja, melainkan juga sebagai rahim peradaban bagi kemajuan zaman. Karena dialah sosok yang berperan aktif dalam pentransferan ilmu dan pengetahuan bagi anak didiknya untuk dijadikan bekal yang sangat vital bagi dirinya kelak. Bahkan yang lebih penting disamping itu, mereka mampu mengembangkan dan memberdayakan manusia, untuk dicetak menjadi seorang yang berkarakter dan bermental baja, agar mereka tidak minder dalam meghadapi masalah dan dapat bersikap layaknya seorang ksatria. Maka bagaimanapun juga peran seorang guru tidak dapat diremehkan di dalam bidang apapun, baik yang bersifat pendidikan maupun yang lainnya.Tetapi untuk mencari dan menjadi guru yang seperti itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, melainkan membutuhkan etos dan spirit perjuangan yang luar biasa. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Friedric Wilhelm Nietzsche, seorang filsuf terkemuka abad postmodern. Dia menuturkan bahwa seorang guru sejati adalah mereka yang tidak memikirkan segala sesuatu, termasuk dirinya sendiri, kecuali muridnya. Dari sini dapat kita tarik kesimpulan bahwa seorang guru yang benar-benar patut dijadikan tauladan adalah mereka yang terfokus pada anak didiknya, demi tercapainya pencerahan. Karena bagaimanapun juga anak didik adalah cikal bakal maju mundurnya sebuah bangsa. Kemana bangsa ini akan diarahkan itu tergantung pada mereka. Profesionalitas Guru Namun masalah pelik yang sering kita hadapi selama ini adalah status guru tidak lagi diindahkan oleh pemegang status itu sendiri. Mereka menjadikan eksistensi guru sebagai profesi. Bahkan yang lebih mengerikan lagi, banyak orang menjadi guru hanya sebagai alternatif atau pelampiasan (jalan keluar mencari nafkah) saja. Guru semacam inilah yang berbahaya, karena mereka tidak mampu membentuk karakter dan mencerdaskan anak didiknya, tetapi mereka malah justru cenderung menguras harta negara. Disamping itu, demi terisinya mata pelajaran, sekarang ini dari pihak sekolah sering kali salah kamar dalam menempatkan posisi guru sebagai pemegang mata pelajaran. Hal itu menjadi sebab utama rapuhnya pendidikan bangsa ini, karena kurangnya profesionalitas tenaga pengajar. Tak dapat dipungkiri, benturan finansial seringkali menjadi masalah ketika para guru ingin mengembangkan aspek pengetahuan mereka. Terlebih aspek pengembangan karir dengan cara menimba ilmu ke jenjang yang lebih tinggi. Akan tetapi, sebagai seorang yang harus lebih pintar dan lebih pandai dari anak didik nya, mau tak mau cara ini harus ditempuh para guru. Dengan kata lain, meningkatkan profesionalisme itu memang harus diiringi dengan sekolah lanjutan setelah memiliki gelar sarjana ke pendidikan. Ikut ambil bagian dalam berbagai kegiatan seminar kependidikan, diskusi dengan pakar-pakar ilmu pengetahuan dan lain sebagainya termasuk cara untuk mencerdaskan diri di samping menuntut ilmu secara formal. Tentu saja kearifan dan kebijaksanaan dalam proses memenej penghasilan sangat dibutuhkan dalam rangka mempersiapkan pendanaan untuk mendapatkan pendidikan kelanjutan. Tidak sedikit para doktor, profesor atau sarjana lanjutan lainnya yang memenej keuangan mereka demikian rupa, sehingga mampu menyelesaikan pendidikan hingga akhirnya benar-benar tampil sebagai seorang pendidik yang memiliki profesi yang dibanggakan. Setelah itu para guru akan lebih mempunyai peluang dan harapan untuk mendapatkan posisi tawar dalam berbagai aspek, yang akhirnya mendapatkan finansial yang lebih tinggi dari keberadaan mereka semula yang hanya mengandalkan kemampuan mengajar. Dukungan berbagai pihak memang memberikan peluang. Bila diperhatikan undang-undang, perhatian pemerintah yang memberikan dana finansial bagi para guru honor. Saat ini, berbagai peluang yang mengandalkan kemampuan untuk mendapatkan finansial tambahan sudah cukup banyak. Bagi mereka yang mampu menulis, media surat kabar, umumnya memberikan finansial bila tulisan mereka diterbitkan. Lembaga pendidikan kursus juga menunggu para pendidik yang ahli di bidangnya. Sehingga orang-orang yang profesional akan mengandalkan kemampuannya untuk mendapatkan finansial yang berdampak pada kesejahteraan hidup keluarganya. Ingatlah, kemajuan zaman akan menggiring manusia yang profesional lebih memposisikan diri sesuai ilmu dan kemampuan mereka masing-masing. Jika tidak, semua orang akan tertinggal, terutama para guru. Anak didik dengan orang tuanya yang mapan akan memilih sekolah dengan tingkat kecerdasan guru yang mereka anggap profesional pula. Lembaga pendidikan akan melakukan hal yang sama, memilih para guru yang profesional, karena finansial yang mereka berikan sama dengan tingkat pengetahuan dan kinerja para guru yang bakal menjadikan siswa mereka cerdas, mampu berkompetisi dan bisa bersaing dengan siswa lainnya dalam dan luar negeri. Jika tidak dari sekarang membenahi diri ke arah yang profesional kapan lagi. Hari Guru selalu diperingati setiap tanggal 25 November, tapi sadarkah kita, setiap tahun ribuan pengetahuan baru bermunculan yang memerlukan keseriusan para guru untuk membahasnya. Jika guru yang ada tidak mengembangkan diri dengan harapan lebih profesional, apakah mungkin guru mampu mentransfer ilmu pengetahuan yang baru? Cakap, cerdas dan memiliki posisi tawar adalah ciri guru masa depan, yang selalu mengembangkan diri dengan ilmu pengetahuan dan inovasi, yang selalu ingin maju dari peserta didik nya. Anak didik menjadi insinyur, selayaknya guru-guru mereka menjadi doktor atau profesor. Mengurangi masalah guru Problem paling vital yang sedang merajalela di kalangan guru sekarang ini adalah kurangnya keseriusan pemerintah dalam menjaga dan melindungi martabat eksistensi guru, baik itu guru tetap, negeri, swasta maupun honor. Sekarang ini eksistensi guru swasta sangat memprihatinkan. Seolah-olah mereka adalah anak tiri yang lagi diterlantarkan oleh pemerintah. Hal tersebut diempiriskan oleh banyaknya sekolah-sekolah swasta yang tidak mampu untuk membiayai guru-gurunya, sehingga yang terjadi adalah berkurangnya kualitas guru, bahkan tidak menutup kemungkinan eksistensi sekolah itu akan berakhir dengan tragis dan memalukan. Jika keanaktirian itu tidak segera diatasi, dan terus membayang-bayangi, maka yang terjadi adalah tidak layaknya keberlangsungan sebuah yayasan, karena selalu meresahkan masyarakat, dengan jalan menarik iuran sekolah terlalu tinggi, tidak mampu menghargai kinerja guru, dan yang teparah adalah ketidakmampuan memberikan pendidikan yang berkualitas bagi anak didik, dikarenakan kurangnya fasilitas-fasilitas sekolah yang harus dipenuhi. Kesejahteraan guru dan filsafat pendidikan Jika kita menginginkan perbal belajar mengajar di suatu kelas berjalan seperti yang kita harapkan, maka kita juga harus memperhatikan berbagai kondisi guru. Berapa pendapatannya, bagaimana kehidupanya, sejahterakah keluarganya, dan masih ada sederetan pertanyaan yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. Yang lebih pastinya, keutamaan kesejahteraan guru itu tidak hanya sebagai mutu hidupnya saja, tetapi lebih condong pada kualitas pendidikan yang diajarkan. Karena eksistensi guru sebagai manusia tidak mungkin lepas dari ketergantunganya kepada orang lain. Artinya, keberadaan guru sebagai manusia pasti mempunyai keluarga yang harus dicukupinya. Untuk mencukupinya itu pasti memerlukan sesuatu, termasuk uang. Jika kebutuhan itu sulit untuk dicapainya, maka secara otomatis konsentrasinya dalam belajar akan berkurang, dan hal ini berdampak pada kualitas pengajaranya yang berimbas pada murid. Disamping kekonsentrasian seorang guru, filsafat pendidikan juga perlu dimilikinya, karena filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam peniddikan (Kneller, 1991). Masalah-masalah pendidikan tidak hanya cukup berdasarkan pengalaman, tetapi juga membutuhkan masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan. Diharuskannya bagi seorang pendidik untuk mengetahui filsafat pendidikan karena tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan kehidupan individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan. Tujuan pendidikan perlu dipahami dalam hubungannya dengan tujuan hidup. Jika ditinjau dari filsafat pendidikan, ada tiga lapangan filsafat, yakni filsafat metafisika, epistemolagi dan aksiologi. Dengan filsafat epistemologi pendidik mengetahui apa yang harus diberikan kepada warga belajar, bagaimana cara memperoleh pengetahuan, dan bagaimana cara menyampaikan pengetahuan tersebut. Dengan filsafat aksiologi pendidik memahami yang harus diperoleh warga belajar tidak hanya kuantitas pendidikan tetapi juga kualitas kehidupan karena pengetahuan tersebut. Hal yang menentukan filsafat pendidikan seorang pendidik adalah seperangkat keyakinan yang dimiliki dan berhubungan kuat dengan perilaku pendidik, yaitu: Keyakinan mengenai pengajaran dan pembelajaran, warga belajar, pengetahuan,dan apa yang perlu diketahui
Sumber: http: //indonesianewsraya.com.
Selanjutnya ...

pendidikan karakter


Orang pintar tanpa karakter, orang kaya tanpa kerja, orang berilmu tanpa beramal adalah sebagian alasan kenapa pendidikan karakter perlu ...download disini slidex
Selanjutnya ...
Designed By Published.. Blogger Templates